Obesitas Pada Anak Usia Dini

65667_anak_obesitas_663_382Tidak semua orang mempunyai berat badan lebih disebut sebagai obesitas. Karena pada atlit yang karena latihan-latihan ang teratur menyebabkan mas aotot yang tumbuh dengan baik, akan mempunyai berat badan rata-rata yang lebih dari anak sebayanya,  tidak dapat disebut sebagai obesitas.  Demikian pula dengan anak yang kerangka tulangnya besar dan otot-ototnya lebih dari biasanya, sehingga berat badan dan tingginya diatas rata-rata anak sebayanya, juga bukan disebut sebagai obesitas pada anak usia dini.  Untuk diagnosisi obesitas harus ditemukan gejala klinis obesitas dan disokong dengan pemeriksaan antropometri yang jauh diatas normal. Pemeriksaan antropometri yang sering digunakan adalah berat badan terhadap tinggi badan, berat badan terhadap umur dan tebalnya lipatan kulit.

Pengobatan obesitas pada anak usia dini yang kegemukan harusnya melibatkan seluruh anggota keluarga. Terutama kea rah pengaturan makanan. Pada beberapa anak, langkat pengaturan makanan lebih berhasil daripada pengaturan latihan fisik.  Beberapa nasihat bagi orangtua yang anaknya obesitas :

  • Berikan perhatian Anda pada anak yang obesitas. Bila tidak ada yang memperhatikan, anak lebih beresiko obesitas pada umur yang lebih tua.
  • Ajari anak agar tidak makan menuruti selera, tetapi hanya sesuai dengan keperluan.
  • Jangan terlalu ketat mengawasi  anak agar makan hanya sedikit, hal ini akan mengganggu jadwal makan  anak dan menggangu respons anak terhadap rasa lapar dan rasa kenyang. Perlu diingat, respons lapar dan rasa kenyang adalah cara yang diperlukan untuk mengendalikan kebiasaan makan sehari-hari anak.
  • Biasanya agar anak bisa mengontrol dan mengendalikan berat badannya. Dan perlu diingat bila orangtua tidak ada yang obesitas, maka kecil resiko anak menderita obesitas, resiko anak akan obesitas meningkat 2 kali lipat.
  • Jangan terlalu menekankan perhatian pada berat badan anak, tetapi perhatian diarahkan pada kesehatan, kebiasaan makan,  aktifitas fisik.
  • Batasi waktu untuk menonton televise.  Karena waktu untuk menonton televisi . Karena waktu untuk menonton televise ternyata berbanding dengan peningkatan berat badan anak.
  • Bila sudah ada mulai tanda-tanda obesitas atau anak mempunyai faktor resiko obesitas, segera minta petunjuk adokter anak, agar segera bisa diambil langkah pengolahan/.

Beberapa nasihat untuk masalah obesitas pada anak usia dini dan di usia sekolah :

  • Makan sambil menonton di depan televise berpotensi meningkatkan resiko obesitas. Seperti  halnya  makan sambil main video game dan main computer.
  • Atur makanan yang boleh sebagai makanan kecil (sncak).
  • Jangan makan di kamar tidur (menghindari agar tidak makan sambil bermalas-malasan)
  • Anak harus mengatur sendiri makanan kecil yang boleh dimakan dan harus mengetahui makanan yang sehat baginya, apalagi anak yang mempunyai resiko obesitas.

Saat ini masih banyak anggapan di masyarakat bahwa anak gemuk adalah anak yang sehat. Seringkali ibu-ibu merasa bangga kalau anaknya sangat gemuk, mereka merasa kecewa jika melihat anaknya kurus tidak segemuk anak tetangga. Kalau  saja orangtua mau memantau berat badan dan tinggi badan anaknya secara teratur dan ternyata sudah ideal antara berat badan dan tinggi bada, anak tersebut berada dalam batas yang normal dan sehat. Memang banyak oragtua bangga dan senang jika buah hatinya gemukm tapi jangan dulu bangga. Sebab kegemukan pada anak bisa memicu penyakiy terutama jantung, diabetes, fungsi paru,, peningkatan kadar kolesterol, gangguan ortopdeik (kaki pengkar) sampai rentan terhadap kelainan kulit.

Posted in Obesitas Pada Anak | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Obesitas Pada Anak di Indonesia

Kegemukan dan obesitas merupakan masalah gizi yang berlebih yang kian marak dijumpai pada anak di seluruh dunia. Kegemukan dan obesitas pada anak merupakan konsekuensi dari asupan kalori (energi) yang melebihi jumlah kalori yang dilepaskan atau dibatasi melalui proses metabolisme di dalam tubuh.

Kegemukan dan obesitas pada anak dapat dimulai dari berbagai metode atau teknik pemeriksaan. Salah satunya adalah pengukuran indeks massa tubuh atau Body Mass Index (BMI). Pengukuran BMI dilakukan dengan cara membagi nilai berat badan (kg) dengan nilai kuadrat dari tinggi badan (m). Nilai ini kemudian diplot pada kurva pertumbuhan anak yang disesuaikan dengan jenis kelamin dan usia anak.

BMI merupakan metode yang mudah dan paling banyak digunakan di seluruh dunia untuk menilai timbunan lemak yang berlebihan di dalam tubuh secara tidak langsung.

Di Indonesia, untuk anak hingga usia 5 tahun, pemantauan berat badan dapat dilakukan melalui Kartu Menuju Sehat (KMS). KMSdapat diperoleh di posyandu di setiap rukun warga (RW). KMS merupakan alat bantu pemantauan perkembangan kesehatan anak secara umum.

Selain kedua metode tersebut, kegemukan dan obesitas pada anak dapat dinilai dengan beberapa metode lain, antara lain, pengukuran lingkar pinggul dan ketebalan lemak kulit. Pemeriksaan ini tergolong sederhana dan mudah dilakukan. Hasil pengukuran lingkar pinggul dan ketebalan lemak kulit kemudian dibandingkan dengan nilai standar pada tabel sesuai dengan umur dan jenis kelaminnya.

Data dari dua survei yang dilakukan Lembaga Survei Gizi dan Kesehatan Nasional (NHANES) pada periode 1976-1980 dan 2003-2006 menunujukkan bahwa prevalensi obesitas terus meningkat secara nyata pada beberapa kelompok usia anak yakni pada kelompok usia 2-5 tahun prevalensinya meningkat dari 5% menjadi 12,4% pada kelompok usia 6-11 tahun prevalensinya meningkat dari 6,5 % menjadi 17% dan pada kelompok usia 12-19 tahun prevalensinya meningkat dari 5% menjadi 17,6%.

Posted in Obesitas Pada Anak | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Obesitas dan Kegemukan

Seorang remaja sangat rentan dengan perubahan fisik yang terjadi sehingga karena pengaruh lingkungan mencoba mengurangi berat badan dengan menggunakan cara instan. Mengonsumsi obat pelangsing maupun jamu-jamuan adalah cara yang biasanya dilakukan oleh remaja.

Sebenarnya secara medis kami tidak mengajurkan hal tersebut karena konsumsi obat-obatan pelangsing pada beberapa orang seringkali menimbulkan banyak efek samping, berupa timbulnya rasa mual sampai muntah, bahkan beberapa orang yang mengalami diare yang berkepanjangan. Efek lain yang bisa timbul dari konsumsi obat-obatan ii adalah siklus menstruasi yang jadi tidak teratur atau bahkan terjadi dehidrasi karena terlalu sering buang air besar.

Dehidrasi bisa terjadi karena sering kali obat-obatan ini bekerja dengan cara mengeluarkan cairan dari tubuh secara berlebihan. Memang, dengan keluarnya cairan, berat badan akan berkurang tetapi jangan salah, hal ini justru akan membuat anda lemas karena kekurangan cairan. Selai itu obat-obatan ini biasanya akan menimbulkan rasa sakit buang air kecil. Rasa sakit ini timbul karena adanya pengaruh obat diet yang bekerja membuang lemak dan lemak ini biasanya dikeluarkan bersama dengan air seni.

Dengan banyaknya efek negatif yang ditimbulkan dari obat-obatan tersebut, bukan berarti anda tidak dapat mengurangi berat badan anda. Sebenarnya ada dua cara yang dianjurkan untuk menurunkan berat badan, yaitu dengan cara berolahraga, misal aerobik minimal 30 menit setiap hari untuk membakar lemak serta melakukan diet menurunkan berat badan secara seimbang. Diet yang seimbang ini mengharuskan kamu untuk tetap makan sesuai dengan jadwal, tetapi komposisinya harus sedikit diubah, yaitu dengan mengurangi kandungan kalori dan lemak serta memperbanyak kandungan protein dan vitamin dalam makanan anda. Cara seperti inilah justru yang sangat efektif untuk mengurangi berat badan secara permanen, tanpa akut terjadi efek yang tidak menyenangkan.

Posted in Obesitas Pada Anak | Tagged , , , , , , , , , , | Leave a comment

Mencegah Obesitas Pada Anak

Makanan terbaik untuk bayi adalah ASI. Ternyata ASI juga dapat mencegah obesitas pada anak. Pengaruh ASI dan susu formula terhadap berat badan, pemberian ASI dapat menurunkan kemungkinan anak mengalami obesitas di kelak kemudian hari.

Remaja yang pernah mendapatkan ASI berpeluan lebih kecil mengalami lekebihan berat badan, dibanding mereka yang sering minum susu formula atau hanya diberi susu formula. Anak yang diberi ASI sebagai makanan utama selama enam bulan pertama (ASI ekslusif) memiliki peluang lebih kecil mengalami kelebihan berat badan, ketika mereka berusia 14 tahun. Semakin lama anak mendapatkan ASI, semakin rendah peluang untuk mengalami kegemukan. Anak yang diberi ASI minimal 7 bulan, memiliki kemungkinan 20% kebih rendha mengalami kegemukan dibanding anak yang hanya diberi ASI selam 3 bulan.

Bagaimana ASI dapat mengurangi kemungkinan terjadinya obesitas pada anak, masih belum jelas. Salah satu kemungkinannya, karena susu formula dan ASI memiliki pengaruh yang berbeda terhadap metabolisme bayi. ASI jelas berpengaruh positif trehadap penyimpanan lemak.

Pengaruh pemberian ASI dan berat badan pada anak usia 3-5 tahun lebih kecil. Anak yang diberi ASI peluangnya lebih kecil mengalami kegemukan. Menunda memberikan makanan padat bisa mencegah kegemukan dan obesitas. Makin lama ibu menunda memperkenalkan makanan tambahan kepada bayi, makin rendah resiko untuk mengalami kelebihan berat badan.

Pemberian susu formula dalam botol ternyata membentuk pola pikir bayi. Dengan menggunakan botol, bayi diarahkan untuk mengosongkan isinya. Hal ini tidak terjadi pada bayi yang diberi ASI. Minum ASI tidak tampak apa yang diberikan dan bayi akan mengonsumsi ASI sesuai dengan kebutuhannya. Jika bayi sudah merasa kenyang/ cukup, dia akan berhenti minum dan mengeluarkan lidah untuk mengeluarkan puting susu ibunya.

Sejak lahir bayi diketahui memiliki kemampuan untuk mengatur diri terhadap pemberian air susu ibu. Dengan mengenali keadaan dan isyarat-isyarat bahasa tubuh anak, ibu dapat mengendalikan pemberian ASI sehingga tidak  terjadi kelebihan asupan yang menyebabkan obesitas.

Posted in Obesitas Pada Anak | Tagged , , , , , , , , , , | Leave a comment

Mengatasi Obesitas Anak

Dalam mengatasi permasalahan kegemukan pada anak, orangtua tetap harus menjadi pendukung  utama di bantu oleh petugas kesehatan dan ahli gizi. Ini karena orangtua berperan besar dalam mengendalikan aktivitas dan mendukung prubahan gaya hidup anak supaya lebih sehat. Kenali perasaan anak dan berikan dukungan, bukan dengan menekan anak. Pastikan anak tahu bahwa orangtua mencintainya dalam kondisi apapun.

Biasanya dalam mengatasi obesitas pada anak atau remaja, target di fokuskan untuk memperlambat peningkatan berat badan atau mempertahankan berat yang telah ada, bukannya menurunkan. Ini karena anak masih dalam pertumbuhan, sehingga diharapkan penurunan berat badan terjadi secara bertahap seiring dengan waktu. Ini akan mencegah anak obesitas menjadi obesitas pada masa dewasanya. Agar target ini tercapai maka perlu keterlibatan seluruh keluarga dalam jangka panjang. Dengan seluruh anggota keluarga yang mendukung maka gaya hidup anak menjadi lebih sehat, dengan mencontoh anggota keluarga yang lain.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan anak di rumah:

  • Aktifitas fisik
    Membatasi waktu menonton televisi, bermain game atauy komputer akan mendorong anak untuk lebih banyak bermain atau beraktifitas sesuai dengan minatnya, seperti berenang, bersepeda, bermain sepatu roda, dll. Ini juga menjauhkan anak dari mengemil dan minum-minuman ringan sambil bersantai. Apalagi jika aktifitas dilakukan bersama anak keluarga, anak juga akan meniru orangtuanya dalam beraktifitas. Tapi jangan paksakan anak bila ia merasa malu dan tidak nyaman dengan aktifitas tertentu. Pastikan kegiatan diikuti sesuai dengan usia anak dan ingatkan untuk banyak minum selama beraktifitas.
  • Pengaturan diet
    Difik anak untuk memahami kebutuhan nutrisi dan makanan. Untuk hal lain, dapat dibantu oleh seorang ahli gizi. Libatkan anak dalam mempersiapkan makanan dan berbelanja, dan jangan memaksakan makanan kepada anak. Biarkan ia memilih sendiri, sambil dibimbing agar anak memakan makanan yang bervariasi.
    Makan bersama keluarga dan makan secara perlahan dapat membantu anak sehingga makan lebih menyenangkan. Anak juga tidak boleh di larangmakan makanan ringan, dalam jumlah terkontrol terutama saat berada di pesta dan acara-acara sosial lainnya.
  • Makanan ringan dan makanan sehari-hari
    Makanan yang sehat seperti gandum utuh, sayur mayur dan buah-buahan sangat penting untuk menjaga nutrisi anak. Gunakan susu yang rendah lemak, dan sebaiknya masak sendiri, terutama makanan cepat saji.

Mengatasi masalah obesitas pada anak memang susah-susah gampang, namun dengan semangat dan dukungan pada anak, hal ini bukan tidak mungkin tercapai. Yang terpenting anak tetap mendapatkan nutrisi yang cukup melalui makanan yang bervariasim dan mengandung kalori dalam jumlah cukup untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang sehat. Terutama di dukung oleh orangtua dalam mengatasi stress emosional dan meningkatkan rasa percaya diri anak.

Posted in Obesitas Pada Anak | Tagged , , , , , , , , , , | Leave a comment

Penanganan Obesitas Pada Anak

Cara terbaik menurunkan pravalensi obesitas, adalah dengan cara pencegahan. Orangtua harus memahami bahwa memberikan makanan dengan botol atau ASI pada bayi bisa berlebihan, walau kelebihan asupan makanan lebih sering ditemukan pada bayi yang diberi makanan dengan botol. Orangtua harus menghargai selera makan anak, dan harus mengerti bahwa anak tidak harus menghabiskan isi botol.

Secara teori cara mengatasi obesitas pada anak adalah dengan mengendalikan berat badan dan penurunan massa indeks tubuh dengan aman dan efektif. Juga, harus mencegah komplikasi jangka panjang yang biasa terjadi pada mereka. Namun penanganan tidak akan berhasil tanpa keterlibatan seluruh anggota keluarga. Dan pengobatan yang sukses, sering  membutuhkan perubahan pola makan pada keluarga.

Prinsip dari tata laksana obesitas pada anak berbeda dengan dewasa karena harus mempertimbangkan faktor tumbuh kembang. Pada anak jumlah asupan makanan tidak dikurangi, Tapi, komposisi makanan di atur agar tercipta menu yang sehat. Kemudian meningkatkan aktivitas fisik dengan membatasi aktivitas pasif seperti menonton televisi , bermain komputer atau playstation.

Diet ketat tidak baik bagi anak-anak dan remaja yang sedang masa pertumbuhan. Anak-anak dan remaja masih membutuhkan nutrisi yang baik bagi perkembangan tubuh mereka. Ketika mereka melakukan diet ketat banyak anak-anak dan remaja yang tidak mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan untuk perkembangannya. Hal itu terutama terjadi pada remaja putri, yang menginginkan tubun indah (langsing). Mereka bisa mati-matian mengurangi makan, sehingga banyak yang justru mengalami kekurangan gizi, seperti zat besi yang sangat dibutuhkan tubuh mereka.

Menangani masalah obesitas tidak akan berhasil tanpa keterlibatan seluruh anggota keluarga. Penanganan pada anak harus melibatkan orang-orang yang sehari-hari di sekitar anak tersebut, seperti orang-orang di lingkungan sekolah, keluarga dan teman bermain. Karena umumnya anak akan mengikuti kebiasaan keluarganya dan lingkungannya. Jika sang ayah atau ibunya senang ngemil, anaknya ototmatis akan gemar ngemil.

Penting untuk menjaga berat badan dan untuk mendistribusikan kembali lemak dalam tubuh menjadi otot. Ini adalah bagian penting program penurunan berat badan. Rekomendasi latihan awal, harus dimulai dengan yang sederhana. Latihan dapat ditingkatkan secara perlahan, untuk menghindari kemungkinan adanya kehilangan semangat. Aktivitas fisik per hari cukup dilakukan 25-30 menit. Apa pun jenis latihannya anak sebaiknya dapat melakukannya selama hari-hari sekolah.

Posted in Obesitas Pada Anak | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Resiko Obesitas

Tidak hanya menimbulkan gangguan psikososial dan emosional menurut ahli ilmu kedokteran, anak yang mengalami obesitas 78% obesitas berlanjut pada saat remaja, dan 25-50% pada saat dewasa. Orang dewasa yang obesitas memiliki kemungkinan lebih besar untuk menderita penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kelebihan berat badan, antara lain diabetes, hipertensi, stroke, penyakit jantung koroner, kanker usus besar, dan payudara, serta resiko kematian dini, bila mengalami kegemukan saat remaja dibandingkan dengan orang dewasa yang mengalami obesitas saat dewasa.

Bahkan ada kecenderungan bila seorang anak mengalami obesitas, resiko untuk terkena penyakit jantung akan terjadi lebih awal. Anak dan remaja dengan kegemukan menderita konsekuensi jangka pendek maupun jangka panjang dan bisa saja gangguan baru muncul disaat ia dewasa.

Selain penyakit pembuluh darah anak juga dapat mengalami gangguan otot dan sendi, terutama sendi lutut, serta beresiko menderita kanker usus besar. Sedangkan pada masa kanak-kanak, kegemukan dapat menimbulkan gangguan pernapasan dan gangguan tidur pada anakm yang tentunya akan mengganggu pertumbuhannya.

Posted in Obesitas Pada Anak | Tagged , , , , , , , , , , | Leave a comment

Faktor Penyebab Obesitas Pada Anak

Obesitas pada anak semakin meningkat angka kejadiannya. Ini tentu bukan masalah remeh, karena ada berbagai gangguan kesehatan di balik obesitas anak. Asupan energi dari makanan dan minuman melebihi energi yang dikeluarkan untuk beraktivitas. Kalori yang masuk harus sama dengan kalori yang keluar. Obesitas itu akibat dari ketidakseimbangan energi.

Obesitas cenderung menurun didalam keluarga. Jika salah satu anggota keluarga mengalami obesitas, maka anak memiliki kemungkinan 50% menjadi obesitas. Namun, jika kedua orangtua mengalami obesitas, maka kemungkinan meningkat menjadi 80%. Tentunya ini tidak hanya didukung faktor genetik saja, melainkan juga didukung dengan asupan makanan anak yang berlebih dibanding aktivitasnya.

Beberapa penyakit dapat menimbulkan obesitas pada anak, namun hal ini sangat jarang. Misalnya ketidakseimbangan hormon, atau gangguan metabolisme. Beberapa jenis obat juga dapat menimbulkan perubahan metabolisme tubuh dan penyimpanan lemak dalam tubuh.

Masalah kebiasaan pola makan sudah harus dibentuk sejak anak mulai dikenalkan makanan pendamping ASI (MPASI) diusia 6 bulan. Di usia ini aktivitas makan bagin anak sekolah adalah proses belajar, mengenal berbagai bentuk, tekstur dan rasa makanan, tanpa perlu sedikitpun memberi garam atau gula.

Kurangnya aktivitas fisik yang membakar kalori juga menjadi penyebab terjadinya obesitas pada anak. Keberadaan TV dan video game yang menjadi barang wajib anak sekarang, banyak dituding sebagai faktor pembawa obesitas. Anak menjadi malas bergeral karena keasyikan melihat televisi.

Kemajuan zaman seakan-akan identik dengan memanjakan fisik, dan kita dikatakan harus mengikuti zaman bilamana kita menggunakan apapun yang sedang populer saat ini seperti roller shoes pada anak, scooter dan berbagai macam varian dari sepeda yang sayangnya tidak dipergunakan untuk memaksimalkan olahraga namu digunakan saat berjalan-jalan di mal atau pusat perbelanjaan.

Kebiasaan lain yang membuat penurunan aktivitas anak adalah kenyamanan sarana transportasi. Orangtua masa kini cenderung mengantar anak sekolah dengan mobil pribadi, turun langsung depan gerbang sekolah. Padahal ada baiknya membiarkan anak jalan kaki setidaknya 15 menit dari jarak mobil ke sekolah.

Posted in Obesitas Pada Anak | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Obesitas Pada Anak

Kegemukan atau obesitas pada anak telah menyita banyak perhatian di dunia kedokteran, karena jumlahnya yang meningkat drastis dibanding sepuluh tahun yang lalu. Masalahnya adalah, kegemukan ini tidak hanya dapat terbawa hingga dewasa, namun juga meningkatkan resiko-resiko kesehatan yang tidak dialami anak lain dengan berat badan yang normal. Namun perlu diingat, ytidak semua anak dengan berat badan lebih dibanding anak seusianya tergolong mengalami kegemukan. Untuk menentukan kegemukan atau obesitas pada anak, diperlukan pemeriksaan kadar lemak tubuh dan perbadingan berat badan anak dengan usia dan tinggnya berdasarkan tabel pertumbuhan yang standar.

Umumnya, orang tua tidak mengkhawatirkan kondisi berat badan yang berlebih pada anak, sampai diingatkan oleh petugas kesehatan atau orang disekitarnya seperti guru, misalnya. Penegakkan diagnosis obesitas pada anak juga lebih rumit dibanding dewasa, karena tidak ada standar berat badan ideal bagi anak-anak.

Ahli mengatakan, anak dikatakan mengalami obesitas jika beratnya sedikitnya kelebihan 10% dari berat yang dianjurkan berdasarkan tinggi dan bentuk badan. Anak obesitas, umumnya mudah dikenalai, karena memiliki ciri-ciri yang khas, antara lain :

  • Wajah bulat dengan pipi tembam dan dagu rangkap
  • Leher relatif pendek
  • Dada membusung dengan payudara membesar (biasanya pada anak laki-laki)
  • Perut membuncit
  • Penis mengecil akibat lemak di perut yang menutupi sebagian penis, sehingga penis seperti tidak terlihat. Istilah ini dikenal juga dengan buried penis.
  • Pubertas dini. Pada anak usia 9 tahun sudah mengalami menstruasi.
  • Genu valgum (tungkai berbentuk X) dengan kedua pangkal paha bagian dalam saling menempel dan bergesekan. Kondisi ini juga dapat menyebabkan iritasi kulit akibat gesekan terus menerus.

Umumnya anak-anak mulai mengalami obesitas pada usia 5 atau 6 tahun, atau selama masa remaja. Studi menunjukkan bahwa anak yang mengalami obesitas pada usia antara 10-13 tahun, berpotensi menjadi obesitas di masa dewasa nantinya.

 

Posted in Obesitas Pada Anak | Tagged , , , , , , , , , , | Leave a comment

Obesitas Dan Kegemukan

Obesitas atau kegemukan adalah kondisi tubuh yang memiliki jumlah cadangan lemak yang lenih banyak dibanding kebutuhannya. Trigliserida dan kolesterol adalah beberapa jenis lemak dalam tubuh kita. Trigliserida banyak terdapat pada tubuh otang gemuk dan tidak dimiliki oleh orang kurus. Adapun kolesterol terdapat baik pada orang kurus maupun gemuk. Kondisi tubuh dengan kadar lemak tinggi disebut hipertrigliserida.

Banyak struktur organ dalam tubuh orang gemuk yang diselimuti lemak. Jika jantung, hati, dan pembuluh darah diselimuti dan terdesak lemak. tentu akan membahayakan laju metabolisme.

Orang dengan kondisi kegemukan mempunyai kecenderungan mengalami peningkatan kadar asam urat dalam darah. Sampai saat ini belum ada teori yang bisa menjelaskan mengapa penderita obesitas memiliki kadar asam urat yang tinggi. namun, banyak penelitian menunjukkan bahwa kadar asam urat pada penderita obesitas lebih tinggi dibanding normal. Oleh karena itu, jagalah agar jangan sampai mengalami kegemukan dengan rutin berolahraga dab memerhatikan asupan makan sehari-hari.

Untuk mengetahui gemuk atau tidak dengan cara mengitung indeks massa tubuh atau body mass index (BMI). Kita harus mengetahui  berat dan tinggi badan. Kemudian, berat badan dalam ukuran kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam ukuran meter. Hasilnya disebut BMI.

Posted in Obesitas Pada Anak | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment